• Cerita Terkini

    Minggu, 20 September 2015

    ANAK SUKA BERBOHONG

    mengisi hari libur dengan corat coret disini .......

    Mengapa anak suka berbohong?
    Pada dasarnya setiap anak belum mengerti apa yang dimaksud dengan berbohong, bagi mereka apa yang mereka lakukan semuanya benar walaupun kadang bagi orangtua merupakan suatu kebohongan. Memang ada beberapa anak yang sudah mengerti apa itu berbohong namun tetap saja mereka lakukan, walaupun pada akhirnya mereka akan mendapatkan hukuman atas kebohongan yang dilakukannya.
    Sebenarnya, bohong adalah kebiasaan yang tidak ada kaitannya dengan usia. Karena itu, anak balita pun memiliki kemungkinan untuk berkata bohong.
    Walaupun anak masih balita, namun ada kemungkinan bisa berbohong. Sebab, dia memiliki pemikiran yang lebih cerdas. Bohong lebih disebabkan oleh sifat atau kepribadian anak. Untuk mengetahui penyebabnya, Anda perlu menganalisis berdasarkan segala hal yang dikatakan anak. Kebohongan pada anak kecil biasanya hanya berupa daya khayal anak saja. Sedangkan untuk anak yang lebih besar berbohong umumnya dilakukan untuk menghindari hukuman.
    Penyebabnya lain diantaranya :

    1. Anak ingin sesuatu yang hanya dapat dicapainya dengan berbohong.(dalan Tabloit Nakita, 2010)
    Seorang anak apabila menginginkan sesuatu dari orangtua yang sekiranya permintaan itu tidak dapat dipenuhi orang tua, maka hal yang sering dilakukan anak untuk mendapatkan keinginan tersebut dengan cara berbohong . Misalnya anak ingin menonton televisi namun anak belum mengerjakan tugas atau hal yang diminta untuk dilakukan, maka anak akan berbohong saat ditanya apakah tugas atau perkerjaannya sudah dilakukan.
    2. Anak melakukan kesalahan dan takut untuk mengakui kesalahannya karena tidak mau mendapat hukuman.
    Setiap anak pasti takut diberi hukuman, apalagi saat anak melakukan kesalahan yang nantinya bisa membuat orang tua marah besar. Anak akan berbohong untuk menutupi kesalahan yang telah dilakukannya. Misalnya anak memecahkan gelas yang baru dibuat minum di dapur, karena takut kena marah anak berbohong dengan mengatakan yang menjatuhkan gelas adalah kucing, dan lain-lain.
    3. Anak mencari perhatian dari orang tua.
    Orang tua yang sibuk, sering kurang memperhatikan perkembangan anak-anak mereka. Padahal setiap detik perkembangan anak sangatlah berarti. Kurangnya perhatian orang tua inilah yang kadang-kadang yang membuat anak frustasi dan melakukan kebohongan-kebohongan yang nantinya diharapkan dapat menarik perhatian dan kasih sayang dari orang tua mereka. Misalnya, anak ingin ditemani  dengan kedua orang tuanya dirumah saat liburan, namun orang tua anak tidak masih banyak pekerjaan yang harus  diselesaikan sehingga tidak bisa menemani anak. Anak melakukan kebohongan dengan pura-pura sakit supaya mendapat perhatian dari orang tua, dan sebagainya.
    4. Meniru perilaku orang tua. Karena sering orang tua secara tidak sadar sudah berbohong dihadapan anak.
    Secara tidak sadar sering kali orang tua melakukan kebohongan dihadapan anak-anak. Hal ini kurang disadari oleh orang tua bahwa yang mereka lakukan adalah salah, karena hal tersebut akan ditiru oleh anak secara langsung maupun tidak langsung. Saat orang tua mengetahui bahwa anak mereka berbohong mereka akan marah dan menghukum anak-anak. Padahal apa yang dilakukan anak adalah apa yang sudah dilihat dan dirasakan oleh anak.
    Menurut Aulia Fadhli (2012) mengatakan bahwa perkataan orangtua tidak sejalan dengan perbuatan dapat ditiru oleh anak. Sebagai manusia tidak mudah memang menjadi orangtua yang “benar” dan baik. Banyak kasus yang terjadi, misalnya ketika orangtua didatangi orang yang menagih hutang, karena merasa terdesak, membuat para orangtua sering memerintahkan anak untuk diam dan tidak memberitahukan keberadaannya di rumah. Kejadian seperti ini memang hal yang sangat sepele. Tentu anak akan berfikit dan bertanya-tanya, mengapa orang tua mereka berbohong, padahal mereka ada di rumah. Hal ini akan berakibat fatal bagi perkembangan mental anak kelak, sedangkan orangtua tidak sadar pada apa yang sudah dilakukannya.

    5. Fabrications (Berbohong sebagai fantasi)

     Dalam perilaku ini dapat dicontohkan, anak menceritakan sesuatu hal yang tidak pernah terjadi, atau anak menceritakan kenyataan yang dilebih-lebihkan. Dimaksutkan  anak berkhayal tentang sesuatu yang dianggap anak menyenangkan dan membahagiakan dalam hidupnya.
    Ini biasa terjadi pada anak-anak yang masih sangat muda, anak-anak ini sangat mudah terpengaruh dengan apa yang dilihat dan didengarnya sehingga terkadang anak belum bisa membedakan mana yang kenyataan dan mana yang hanya imajinasi. Bermain dengan cerita fantasi sebenarnya bukanlah suatu hal yang salah, tapi sebaiknya orangtua memberitahukan anak bahwa semua itu hanya 'pura-pura' atau tidak nyata. 'Bu aku tadi bisa terbang seperti superman," begitu contoh anak yang berbohong sebagaifantasi.

    6. Wrong accusations
    Contoh dalam perilaku ini yaitu anak menyalahkan orang lain atas kesalahan yang diperbuatnya. Anak-anak ini berbohong untuk membela dirinya, menyangkal kesalahan yang dibuatnya. Ada juga yang meniru perilaku orang lain, berbohong agar diterima oleh kelompok teman sebaya, atau bahkan juga untuk membuat dirinya tampil baik di hadapan orang lain.

    7. Dorongan untuk berbohong.
    Anak yang sering berbohong lama kelamaan bisa menjadi kebiasaan buruk, sehingga dibutuhkan penanganan yang lebih serius. Kebanyakan orangtua mulai belajar untuk mengenali sinyal-sinyal non-verbal yang ditunjukkan saat anak tersebut berbohong. "Bu aku pergi ke rumah Alex ada belajar kelompok," katanya padahal tujuannya ingin main.

    8. Faktor lingkungan yang mendukung anak untuk berbohong.
    Anak yang suka berbohong, bahkan setiap saat dia selalu berbohong, bisa juga karena pengaruh buruk dari lingkungan anak. Dimana saudara, teman, tetangga, orangtua bahkan bisa jadi seluruh anggota keluarga anak suka dan sering melakukan kebohongan-kebohongan kepada siapapun. Hal ini akan ditiru oleh anak, bahkan bisa dijadikan anak sebagai kebiasaan dalam pergaulannya.  


    Dampak perilaku berbohong pada anak:
    1.     Anak akan berusaha menutupi kebohongan yang sudah dilakukan dengan kebohongan yang lain, supaya kebohongan anak tidak ketahuan.
    2.    Anak tidak mendapat kepercayaan.
    3.    Anak akan dihinggapi rasa bersalah.
    4.    Anak akan merasa bahwa berbohong merupakan  solusi yang tepat ketika anak menghadapi masalah.
    Alternatif/srategi mengatasi anak yang suka berbohong

     Orangtua pasti menginginkan anaknya selalu berkata jujur. Karena kejujuran merupakan salah satu karakter baik yang harus dimiliki oleh semua orang termasuk anak-anak. Dengan membiasakan diri untuk selalu berbuat jujur sejak dini, maka nantinya karakter baik ini akan terus terbawa hingga si anak beranjak dewasa.
    Banyak cara yang harus dilakukan untuk membantu anak yang mengalami masalah dengan berbohong. Dalam pelaksanaannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus menerus, sehingga kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan anak bisa hilang dengan sendirinya. Anak tidak perlu dipaksa  dengan keras, namun dengan pelan-pelan dan keteladanan.
    Mengatasi anak yang suka berbohong tidak dengan hukuman fisik, itu tidak menyelesaikan masalah bahkan bisa menambah parah anak untuk melakukan kebohongan. Hukuman memang kadang bisa membuat anak takut untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan lagi, namun banyak juga yang justru membuat kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak semakin parah. Menurut Aulia Fadhli (2012) hukuman fisik merupakan konsep atau paradigma kuno dalam mendidik anak. Sekarang saatnya anak didik dengan cara yang lebih halus. Ada beberapa orang yang pendapat mengapa hukuman fisik tidak diperbolehkan. Alasan hukuman fisik tidak diperbolehkan diantaranya:
    1.     Anak akan merasa disakiti, bukan disayangi.
    2.    Anak menjadi pendendam, dan akan berbuat hal yang sama kepada saudara terkecilnya untuk melampiaskan dendamnya.
    3.    Anak juga beranggapan kelak saat mendidikanak-anaknya, akan melakukan hal yang sama dengan yang dialaminya saat ini.
    4.    Anak akan belajar bahwa dalam menyelesaikan masalah yang efektif adalah dengan hukuman fisik/kekerasan.
    5.    Anak terkondisi dengan ketidakberdayaan yang dipelajari, karena hukuman fisik hampir tidak bisa dicegah, dilawan atau diklarifikasi, sehingga anak terbiasa dengan pasrah saat dipukul atau sebagainya.
    6.    Menghambat perkembangan anak, karena anak akan takut berbuat salah.

    Akan tetapi ada juga perilaku-perilaku yang harus mengajarkannya dengan hukuman fisik. Hal ini dikarenakan orangtua sudah kewalahan menghadapi anak yang berperilaku yang jelek. Orangtua sudah berusaha untuk menempuh cara tanpa hukuman fisik, namun cara itu tidak bisa diterapkan pada anak, maka orangtua menempuh cara hukuman fisik. Adapun syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh orang tua saat melakukan hukuman fisik pada anak:
    ·        Melakukan hukuman fisik karena tidak ada cara yang lain.
    ·        Hukuman jangan berbentuk siksaan fisik yang akan membuat anak menderita atau cedera.
    ·        Hukuman harus relevan dengan jenis kesalahan yang dilakukan anak. Kita bisa menghukum anak untuk melakukan tugasnya sebanyak tiga kali, sehingga anak dihukum juga belajar.
    ·       Hukuman jangan diberikan saat marah. Karena dengan marah hukuman akan menyakiti fisik dan mental anak.
    ·        Hukuman dilakukan setelah betul-betul diketahui letak kesalahan anak.
    ·  Hukuman harus bisa menjadikan perubahan pada diri anak, bukan menambah beban anak atau memperparah keadaan anak.
    ·        Tidak memukul pada bagian-bagian yang menyakitkan seperti wajah, dada dan kepala.
    ·    Pukulan harus bertahap. Dari yang ringan sampaai yang agak berat sesuai dengan kesalahan yang dilakukan anak.
    ·        Tidak boleh memukul anak dibawah umur 10 tahun.
    ·        Hendaknya orangtua sendiri yang menghukum anak, jangan menyerahakan hukuman pada orang lain.
    Hukuman yang sepantasnya diberikan kepada anak adalah dengan cara memberi hadiah, hadiah akan menarik anak untuk melakukan hal yang benar. Namun hadiah juga tidak boleh dilakukan sering-sering, itu akan menimbulkan kesan bahwa anak hanya mau melakukan perbuatan yang benar karena ada hadaihnya.
    Metode yang bisa dipergunakan dalam menangani anak yang suka berbohong, diantaranya:
    1.     Dengan pendekatan.
    2.    Tauladan atau contoh perbuatan.
    3.    Nasehat dan peringatan.
    4.    Kasih sayang dan perhatian.
    5.    Hadiah dan hukuman.
    Dalam mengatasi masalah anak yang suka berbohong, tidak bisa hanya orangtua saja bertanggungjawab/wajib melakukannya. Tetapi lingkungan lainnya juga berperan dalam pelaksanaan penanganan anak, yaitu lingkungan sekolah dan masyarakat. Orangtua harus membina hubungan kerjasama dengan keduanya untuk kelangsungan penanganan anak yang suka berbohong. Apabila hanya pihak keluarga saja yang mengatasi, itu tidak akan bisa. Karena anak akan melakuan kebohongan di sekolah maupun di masyarakat.

    Strategi atau cara untuk mengatasi anak yang suka berbohong: 

    I.    Keluarga

    Keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak. Tempat pertama karena anak lahir dan dibesarkan dalam keluarga. Yang utama, karena orangtua bertanggung jawab penuh terhadap segala pendidikan dan hidup anak. Untuk itu keluarga adalah faktor terpenting dalam pembentukan sikap dan merilaku anak.
    Dalam keluarga, anak selalu bercermin dengan apa yang dilakukan orang terdekat mereka, yaitu orangtua. Disaat anak mengalami perilaku yang suka berbohong, orangtua seharusnya bisa menjadi dokter terhebat dalam menangani anak.
    Adapun yang harus dilakukan orangtua dalam membimbing anak yang suka berbohong:
    v  Ajarkanlah anak arti dan nilai kejujuran sejak kecil dengan memberikan contoh dan akibat yang bisa terjadi dari kebohongannya.

    v  Bila anak ketahuan berbohong, segera luruskan dan jangan beri kesempatan bagi anak untuk berbohong lagi.
    Tanamkan secara konsisten bahwa berbohong adalah perilaku yang harus dihindarkan karena dapat merugikan dirinya maupun orang lain.
    Berikan penertian kalau sudah berbohong anak tidak bisa dipercaya teman, dan teman teman tidak mau bermain lagi dengan anak. Hal ini akan membuat anak berfikir kalau berbohong itu tidak dibolehkan.
    v  Jangan pernah mencaci ataupun membentak anak karena kebohongannya.
    Buatlah pernyataan dan kalimat-kalimat yang baik yang memberikan kepercayaan kita dan juga pernyataan bahwa hal yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Contohnya : "Ibu tahu kamu bukan seorang pembohong dan seorang yang suka mengambil kepunyaan orang lain, tapi mengapa kamu mengambil sesuatu yang bukan kepunyaan kamu?" dan seterusnya.

    v  Sifat anak yang sensitif, biasanya memerlekan pendekatan secara halus. Saat menegur anak yang ketahuan sedang berbohong, jangan sampai membuat anak menangis bahkan menjerit-jerit.
    Jika dengan cara yang halus masih belum bisa membuat anak berhenti berbohong, barulah intensitasnya ditamabah sedikit demi sedikit. Apalagi anak yang suka melakukan kebohongan berulang-ulang harus diberi ketegasan.

    v  Berikan contoh langsung dari orangtua.
    Ketika orangtua melarang anak untuk tidak berbohong, maka orangtua juga tidak boleh berbohong kepada siapapun. Orangtua harus berhati-hati terhadap setiap tindakan yang akan mereka lakukan. Anak belajar banyak dari orangtua, apabila kenyataan yang dihadapi anak bertentangan dengan apa yang sudah diajatkan orangtua, ini akan berakibat fatal. Hal ini akan merubah cara dan pola berfikir anak.

    “Bagaimana anak akan belajar kejujuran, bila anak mengetahui orangtuanya berbohong”.

    v  Jika orangtua tidak sadar berbohong dan didengar/disaksikan anak, maka segera koreksi dan beritahu kalau orangtua sedang khilaf dan hal itu tidak perlu untuk ditiru.

    v  Bila anak terus berbohong dan berfantasi, Anda perlu menghentikannya dengan cara memberi tahu bahwa mereka harus menjawab dengan jujur. Selain itu, Anda perlu melatih anak untuk membedakan antara ilusi dan realita.

    v  Jangan memarahi anak didepan orang lain. Hal ini akan menyebabkan anak merasa malu dam minder untuk bertemu dengan orang lain. karena dengan adanya perasan minder dan malu akan menghambat  Perkembangan psikologis anak.

    v  Ciptakan suasana lingkungan keluarga yang terbuka.
    Hal ini akan membuat anak terbuka dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya kepada orangtua maupun saudaranya, sehingga tidak ada hal yang ditutupi oleh anak.


    v  Penanaman ajaran agama yang kuat.
    Katakan kepada anak, berbohong adalah perbuatan yang tidak disukai Tuhan, dan apabila anak tidak mengaku, Tuhan pasti mengetahui. Dengan cara ini anak sekaligus bisa didekatkan denga Tuhan Yang Maha Kuasa.

    v  Boleh memberikan hukuman bila anak melakukan kebohongan tapi yang bersifat mendidik.
    Seperti melarang anak menonton film kesukaan, tidak memberikan komik yang diinginkan anak, tidak mewujudkan keinginnanya untuk jalan-jalan, dan lain-lain.


    II.  Sekolah
    Dalam hal ini kerjasama antara orangtua dengan pihak sekolah sangat diperlukan. Karena sekolah merupakan lembaga terdekat dengan anak kedua dari keluarga. Sekolah merupakan tempat melanjutkan pendidikan karakter yang sudah ditanamkan dari rumah atau keluarga. Disekolah anak ditanamkan nilai-nilai moral yang bisa membuat anak lebih mengerti arti kebohongan.
    http://3.bp.blogspot.com/-Guxo_oOG5C8/T3pNX994ZCI/AAAAAAAAA4g/QLWCN2RyT9A/s1600/anak+bohong+1.jpgTerutama dengan guru, anak akan lebih percaya dan menurut apa yang dikatakan oleh gurunya dibandingkan dengan perkataan dari orangtuanya. Untuk itu guru sangat berperan penting dalam menanamkan nilai kejujuran pada anak.

    III.  Masyarakat
    Masyarakat merupakan tempat ketiga setelah rumah/keluarga dan sekolah. Dimana anak berinteraksi dengan teman sebayanya. Diantara teman sebaya juga dapat mempengaruhi anak untuk berbuat kebohongan. Namun ada juga teman anak yang berasal dari keluarga yang menanamkan moral yang tinggi, bisa membantu anak untuk mengatasi perilaku anak yang suka berbohong.

    Masyarakat juga yang kelak akan menilai perilaku seseorang. Apabila perilaku anak baik maka anak dapat diterima dalam masyarakat. Namun apabila perilaku anak kurang baik, maka anak akan ditolak dalam masyarakat.
    Kesimpulan:
    Berbohong pada anak merupakan salah satu perilaku yanng menjengkelkan bagi orangtua. Hal itu bisa disebabkan beberapa hal. Bisa jadi merupakan hal yang wajar, bagian dari tahapan perkembangan anak, mengimitasi atau meniru orang yang ada disekitarnya atau untuk mencari perhatian dari orangtua dan orang-orang disekitarnya.
    Hendaknya orangtua segera mencari tahu penyebabnya. Karena berbohong tidak selalu disebabkan oleh kesalahan dari anak. Jika akibat yang dikarenakan berbohong berdampak besar, orangtua boleh memberikan sangsi atau hukuman yang tepat pada anak.
    Penerapan peraturan dirumah dengan sikap yang konsisten seluruh anggota keluarga juga bisa menjadi alternatif cara mengatasi anak yang suka berbohong. Yang tidak kalah pentingnya yaitu menjalin ikatan emosional yang erat semenjak dini antara orangtua dengan anak, sehingga anak bisamenjaga hubungan yang positif dengan orangtua hingga dewasa.

    Saran:
     Disarankan bagi orangtua untuk bisa menanamkan nilai-niali moral yang kuat pada anak, sehingga perilaku anak suka berbohong tidak terbawa sampai dewasa, agar tidak menjadi suatu kebiasaan atau habit, karena akan mempengaruhi hubungan dengan masyarakat.


    "SEMOGA BERMANFAAT "